Surabaya, sindonews.id - Penanganan kasus seorang lansia bernama Sueb yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi sakit dan kelaparan di sebuah gubuk di wilayah perbatasan Surabaya kini menuai polemik.
Lokasi penemuan diketahui berada di sekitar Kelurahan Kejawan Putih Tambak, tepat di samping jembatan sungai yang menghubungkan kawasan Mulyorejo dengan Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya.
Evakuasi yang dilakukan secara diam-diam pada malam hari justru memicu kecurigaan publik. Sejumlah pihak menduga adanya upaya penghilangan barang bukti oleh oknum di tingkat kelurahan maupun kecamatan setempat.
Peristiwa ini menjadi sorotan setelah banyak pihak mempertanyakan alasan evakuasi dilakukan saat kondisi lingkungan sepi. Warga dan pegiat sosial menilai langkah tersebut tidak transparan dan terkesan terburu-buru.
Ketua Ormas SAPURA, Musawwi, menyampaikan keprihatinannya sekaligus mempertanyakan langkah aparat setempat.
“Kenapa evakuasi dilakukan malam hari saat situasi sepi? Mengapa tidak dilakukan pada pagi hari agar terbuka dan bisa disaksikan publik? Ini menimbulkan dugaan adanya upaya menghilangkan barang bukti di lokasi,” tegasnya. Senin (30/03).
Musawwi menegaskan, pihaknya akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Ia menilai kasus yang menimpa Sueb bukan sekadar persoalan kemanusiaan, tetapi juga mencerminkan lemahnya pengawasan dan kepedulian pemerintah di tingkat bawah.
“Kami akan terus mengawal kasus bapak Sueb. Sangat miris, di kota sebesar Surabaya dengan gedung-gedung tinggi, masih ada warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan tanpa perhatian dari pemerintah setempat,” lanjutnya.
Fakta lain yang terungkap, berdasarkan keterangan Sueb, dirinya bukan berasal dari Surabaya, melainkan dari wilayah Jawa Tengah. Ia juga menyebut bahwa KTP miliknya telah terbakar, sehingga memperumit proses identifikasi dan pendataan sebagai warga yang telah lama tinggal di Kota Surabaya.
Kondisi ini memunculkan kritik terhadap Pemerintah Kota Surabaya, termasuk pihak kelurahan dan kecamatan, yang dinilai belum optimal dalam menangani warga rentan, khususnya pendatang atau warga urbanisasi.
Selama bertahun-tahun, Sueb disebut hidup sendiri di gubuk sederhana tanpa pendampingan sosial, hingga akhirnya kondisinya viral di pemberitaan. Hal ini semakin menguatkan dugaan adanya kelalaian dalam penanganan warga rentan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kelurahan, kecamatan, maupun Dinas Sosial Kota Surabaya belum memberikan keterangan resmi terkait alasan evakuasi dilakukan pada malam hari, termasuk dugaan penghilangan barang bukti di lokasi.
Publik kini menunggu transparansi dan klarifikasi dari pemerintah setempat. Desakan agar dilakukan investigasi terbuka pun semakin menguat, guna memastikan tidak ada pelanggaran prosedur maupun upaya menutup-nutupi fakta dalam penanganan kasus lansia terlantar tersebut. Rill/Redho


Komentar0