
Teheran, SINDOnews.id - Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan ke sejumlah target yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat, Jumat (27/3).
Dalam pernyataan resmi yang dirilis media pemerintah IRNA, IRGC menyebut operasi tersebut sebagai aksi balasan dengan menggunakan drone serta rudal jarak menengah hingga jarak jauh.
Serangan dilaporkan menyasar wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.
IRGC juga mengklaim menargetkan fasilitas pendukung sistem pertahanan udara milik AS di Bahrain.
Sehari sebelumnya, Iran dilaporkan telah lebih dulu menggempur sejumlah aset militer dan logistik Amerika Serikat di kawasan yang sama. Target tersebut antara lain Pangkalan Arifjan di Kuwait, Al-Kharj di Arab Saudi, serta Pangkalan Sheikh Isa di Bahrain.
Selain pangkalan militer, sasaran lain mencakup fasilitas logistik pertahanan, penyimpanan bahan bakar, hanggar drone MQ-9, hingga sistem komunikasi satelit.
Sementara itu, laporan media internasional menyebut militer Iran juga mengklaim telah menargetkan kapal militer Israel di Laut Mediterania bagian timur serta infrastruktur bahan bakar jet tempur di pelabuhan Haifa.
Juru bicara IRGC, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa serangan ini merupakan respons langsung atas apa yang mereka sebut sebagai agresi.
“Kami bertekad untuk secara kuat menargetkan sumber dari segala agresi,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Serangan balasan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menggempur wilayah Khorramshahr di barat daya Iran.
Sejak akhir Februari, ketegangan di kawasan memang terus meningkat. Serangan saling balas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memperlihatkan konflik yang semakin terbuka dan berisiko meluas ke kawasan yang lebih luas.
Di tengah situasi ini, perhatian dunia tertuju pada potensi eskalasi yang tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengganggu jalur energi global. Rill/Red
Komentar0