TUO9BUW7TUW7TSd7TSMpGfdpTi==

Konflik AS–Iran Menguji Ketahanan Ekonomi RI, Aktivis Politik Lala Komalawati Soroti Risiko Inflasi dan Energi

Jakarta, sindonews.id - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai tidak hanya berdampak pada stabilitas geopolitik kawasan Timur Tengah, tetapi juga menjadi ujian serius bagi ketahanan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Aktivis politik Lala Komalawati menilai bahwa konflik tersebut berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi global melalui lonjakan harga energi, gejolak pasar keuangan, serta meningkatnya ketidakpastian investasi.

Menurut Lala, sejarah menunjukkan bahwa setiap ketegangan geopolitik di Timur Tengah hampir selalu berujung pada kenaikan harga minyak dunia, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia.

“Ketika konflik meningkat di Timur Tengah, dampaknya hampir selalu terasa di pasar energi global. Negara seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak akan sangat rentan terhadap gejolak harga tersebut,” ujar Lala, saat dikonfirmasi. Sabtu (14/03).

Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia berpotensi menimbulkan efek berantai bagi perekonomian nasional. Mulai dari meningkatnya tekanan inflasi, melemahnya daya beli masyarakat, hingga membengkaknya beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam perspektif ekonomi politik, situasi tersebut juga dapat memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.

“Ketika konflik global meningkat, investor biasanya mencari aset yang lebih aman. Dampaknya, negara berkembang seperti Indonesia bisa mengalami tekanan terhadap arus modal dan nilai tukar,” jelasnya.

Ujian Ketahanan Energi Nasional

Lebih jauh, Lala menilai konflik tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa ketahanan energi merupakan salah satu pilar utama stabilitas ekonomi nasional.

Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak membuat perekonomian nasional masih rentan terhadap dinamika geopolitik global.

“Konflik ini seharusnya menjadi momentum refleksi bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi. Ketika harga minyak dunia naik, kita langsung merasakan dampaknya terhadap inflasi dan beban fiskal,” katanya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk mempercepat agenda diversifikasi energi serta pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai strategi jangka panjang.

Strategi Pemerintah yang Diperlukan

Dalam pandangannya, pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk meminimalkan dampak konflik global terhadap ekonomi nasional.

Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain memperkuat cadangan energi nasional, mempercepat pembangunan infrastruktur penyimpanan energi, serta memperluas investasi di sektor energi terbarukan.

Selain itu, stabilitas fiskal dan moneter juga harus tetap dijaga agar gejolak global tidak secara langsung mengguncang ekonomi domestik.

“Indonesia harus mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi, ketahanan energi, serta strategi diplomasi internasional. Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, ketahanan nasional harus dibangun dari berbagai sektor,” tegasnya.

Lala menambahkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan politik internasional, tetapi juga menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi nasional sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global. Rill/Red

Komentar0

Type above and press Enter to search.