SindoNews.id — Dinding- dinding tinggi Lembaga Pembinaan Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandung menjadi saksi bisu lahirnya sebuah titik balik bagi para warga binaan.
Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk "Make New Hope", Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC) resmi meluncurkan program pelatihan barista bersertifikat bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) pada Selasa (19/05/2026).
Langkah nyata ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan komitmen jangka panjang YPBLC untuk mencetak 1.000 tenaga kerja terampil di seluruh Indonesia, sekaligus solusi konkret untuk menekan angka residivis akibat minimnya akses lapangan kerja pasca pembinaan.
Menjawab tantangan sosial yang ada di tengah masyarakat, Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti mengambil langkah radikal yang membumi.
Melalui inisiatif "Make New Hope", yayasan menegaskan perannya sebagai institusi akademik yang tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal, tetapi juga aktif menghadirkan solusi struktural yang terukur dan berkelanjutan.
Pemilihan pelatihan barista sebagai langkah awal program ini didasarkan pada analisis kebutuhan industri kopi di Indonesia yang terus berkembang pesat menjadi gaya hidup.
Ketua BPH Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc. menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan dampak nyata yang langsung menyentuh akar rumput.
“Kali ini, Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti berkomitmen melalui program CSR ‘Make New Hope’ sebagai bentuk nyata kami dalam memberikan harapan hidup lebih baik melalui pelatihan kerja bersertifikat. Untuk awalan kami pilih workshop barista hasil kerjasama dengan Kemenaker RI, MAXX Coffee, dan Doktorandus Koffie selama 4 hari,” ujar Julian Bongsoikrama.
Lebih lanjut, Julian memaparkan alasannya, mengingat tingginya animo masyarakat Indonesia yang menjadikan kopi sebagai gaya hidup.
Sehingga, para peserta pelatihan diharapkan bisa mengaplikasikan bekal keterampilan ini di masyarakat.
"Nilai-nilai kebudiluhuran sebagai fondasi kehidupan telah diwariskan oleh founder Budi Luhur University. Prinsip inilah yang menjadi guidance kami untuk terus berdaya dan berdampak bagi masyarakat," katanya.
Program yang diinisiasi oleh YPBLC ini menyasar persoalan krusial dalam sistem pemasyarakatan, yaitu tingginya angka pengulangan tindak pidana (residivis).
Keterbatasan keterampilan membuat mantan warga binaan sering kali kesulitan mendapat pekerjaan yang layak setelah bebas. Berangkat dari empati sosial tersebut, YPBLC hadir membawa pendekatan vokasional berbasis industri.
Aksi nyata ini didukung penuh oleh akademisi, salah satunya Dr. Lucky Nurhadiyanto, M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global (FISSIG) Budi Luhur University.
Ia menegaskan bahwa program ini adalah tantangan bagi akademisi untuk tidak hanya berdiskusi di tataran teoretis, tetapi terlibat secara konkret mengurangi angka residivis di lapangan.
Sementara itu, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Ibu Gayatri Rachmi Rilowati, A.Md.IP., S.H., M.Hum., menilai program "Make New Hope" ini menjadi jembatan konkret antara masa pembinaan di dalam lapas dengan dunia kerja riil yang menanti di luar.
"Kami lapas berharap kerja sama lintas sektor ini dapat berkelanjutan dan membawa dampak serius bagi masa depan warga binaan," jelas Gayatri Rachmi.
Pada hari pertama, para peserta langsung dibimbing oleh tiga trainer profesional dari MAXX Coffee: Bella Bianca Angela L., Hanna Sahras, dan Rangga Reyasa Graha.
Menggunakan fasilitas dan peralatan standar industri, para warga binaan diajarkan teknik manual brewing menggunakan alat seduh V60.
Pendekatan hands-on learning diterapkan secara presisi. Peserta diajak mengenal karakteristik biji kopi Nusantara mulai dari Papua Wamena hingga Java Ciwideydilanjutkan dengan proses scaling (penimbangan kopi dan air digital), hingga teknik menuang air panas (brewing) lewat Gooseneck Kettle. Rill/Ivn

Komentar0